oleh

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Article by :

Rio Setiady, ST
( Wakil Ketua Komisi II DPRD kota Pangkalpinang )

 

DiksiNews.com, Pangkalpinang — Proklamasi 17 Agustus 1945  yang di gaungkan oleh Soekarno – Hatta bertepatan dengan bulan Ramadhan 76 tahun silam telah menjadi sebuah turning point (titik balik) bagi sejarah bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan tetesan darah para pahlawan, dan segenap seluruh komponen bangsa Indonesia, suskes memaksa para penjajah untuk menghentikan pendudukannya secara fisik di bumi pertiwi.

Fakta menunjukkan, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tak dapat dipisahkan dengan perjuangan dan rasa  kebersamaan rakyat kala itu, semangat jihad dan semangat membara cinta tanah air ternyata menjadi “amunisi” tak terkalahkan rakyat Indonesia. Banyak sekali literature yang mendorong ummat untuk bergerak aktif memerdekaan dan mematahkan kungkungan penjajahan, apapun bentuknya fisik maupun non fisik.

Proklamasi 17 Agustus 1945 hakikatnya juga merupakan momen yang mengakhiri episode keangkuhan dan penindasan rezim kolonial. Sebuah keangkuhan yang membuat bangsa kita miskin dan terhina selama ratusan tahun. Namun jangan lupa, berakhirnya keangkuhan dan penindasan rezim kolonial tidak serta merta membebaskan rakyat Indonesia dari keangkuhan dan penindasan rezim lain dalam bentuk yang berbeda.

Tugas terberat dari sebuah bangsa merdeka sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan dirinya sebagai bangsa merdeka, serta bebas dari hegemoni internal dan eksternal yang menindas. Merdeka dari hegemoni penindasan internal berarti bebas dari penguasa-penguasa pribumi yang bertindak dan bertingkah laku laksana penjajah asing.
Kita memerlukan pemerintahan yang sayang dan cinta kepada rakyatnya sendiri. Tidak hanya cinta sebatas bibir, namun juga mencintai dan mengayomi dalam bentuk dan tindakan nyata.

Global War

Hari ini bangsa Indonesia dan dunia sedang menghadapi “Global War” melawan pandemi Covid 19 yang tak kunjung reda. Bahkan setiap berjalannya waktu, semakin muncul pula varian baru yang semakin perkasa dan menambah banyak korban berjatuhan. Sudah ribuan tenaga kesehatan yang berguguran, dan jutaan orang meninggal di dunia karena virus ini.

Protocol kesehatan pun di jalankan, masker menjadi atribut wajib bagi siapapun yang ingin keluar rumah. Dulu kita bebas keluar rumah tanpa masker, namun hari ini berbeda, tanpa masker justru berpotensi akan mendapatkan sanksi dari Tim gugus tugas penanggulangan Covid 19. Ada lagi vaksin, sebagai bentuk pertahanan diri, yang pada awalnya di pandang sebelah mata oleh masyarakat, kini mulai di cari dan di buru, karena hamper seluruh public service memposisikan vaksin sebagai pra syaratnya.

Hari ini kita ketahui bersama bahwa Pandemi yang sudah berlangsung hamper 2 tahun ini belumlah usai, masih sangat banyak warga yang terdampak akibat pembatasan pergerakan masyarakat, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang dalam kondisi sakit, ada pula yang harus berjuang mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari.

Maka momentum 17 Agustus sebagai hari ulang tahun republik Indonesia ini marilah kita perkuat kebersamaan untuk bersama sama bangkit dari Pandemi yang taka da yang tahu kapan selesai. Tentu perlu keterlibatan banyak pihak untuk dapat mengembalikan seperti sedia kala sebelum datangnya Pandemi Corona ini.

Kolaborasi = Solusi

Perlu kerjasama antara pemerintah daerah, masyarakat, serta swasta untuk mengurangi beban yang menyerang berbagai sektor baik ekonomi, sosial, dan pendidikan.  Perlu kelapangan jiwa dalam menghadapi Pandemi ini, karena banyak sekali protokol yang buka jalankan terkadang tidak sesuai dengan harapan kita dalam bekerja mencari nafkah, untuk itu diperlukan sebuah kebijakan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar permasalahan ini dapat kita minimalis sir jangan sampai korban berjatuhan semakin banyak, baik karena virus Corona maupun karena kelaparan atau faktor ekonomi.

Jauhi seluruh keserakahan yang brsorak di atas penderitaan orang lain, perilaku seperti korupsi bansos, menumpuk alat kesehatan dan obat – obatan, penimbunan sembako adalah perbuatan tak terpuji dan sangat bertentangan dengan semangat kemerdekaan RI. Pun kepada penyelenggara Negara dan pemerintah daerah, sejatinya wajib menjamin kehidupan masyarakat yang terdampak pandemi, bukankah pembatasan sosial ini telah mengurangi porsi lapangan pekerjaan masyarakat? Dan hidup dan mati masyarakat adalah tanggung jawab Negara.

Mereka yang mampu taka ada salahnya berbagi, membantu sesame tak akan menjadikan kita miskin, apalagi di masa darurat seperti sekarang, tak mungkin seluruh beban kita letakkan di pundak pemerintah, saatnya orang yang mampu membantu sesama.  Kita perlu berkolaborasi untuk bertahan dan bangkit di tengah pandemi.

Pandemi ini seharusnya menumbuhkan rasa kebersamaan diantara kita, menguatkan semangat saling berbagi, dan tentu saja saling memikul beban agar cita cita para pendiri bangsa Indonesia sejahtera yang ber keadilan dapat terwujud. Harapan kita bersama peringatan HUT tapi ini bukan sekedar seremoni biasa, tetapi dapat mengembalikan optimisme serta Persaudaraan di antara kita, yang mempunyai silahkan berbagi sama yang sehat membantu yang sakit, yang sedang diuji sakit juga bisa membawa diri agar tidak sampai merugikan orang lain. Inilah bentuk konkrit kita dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan. Semoga.

Dirgahayu RI Ke – 76.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *